Bacaan Injil


JUMAT


Jumat, 16 Juni 2017
PEKAN BIASA X (H)
Sta. Yulita dan Cyriacus; Sta. Lutgardis; St. Yohanes Fransiskus Regis
Bacaan I            : 2Kor 4: 7 – 15
Mazmur            : 116: 10 – 11. 15 – 16. 17 – 18; R: 17a
Bacaan Injil       : Mat 5: 27 – 32

Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzina. Tetapi, Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan; ia berbuat zina.

Renungan
Orang sering berpendapat penderitaan dan kesulitan menjadi halangan untuk menjadi murid Yesus. Petrus melihat sebaliknya. Semuanya itu dilihatnya dalam hubungan dengan sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Paulus sendiri mengalami banyak hambatan, kesulitan, penindasan, dan penderitaan, tetapi ia tetap percaya pada Kristus. Dan ia selalu bersyukur. Karena itu, ia berani bersaksi dan mewartakan Injil tanpa lelah. Kata Paulus, penderitaan justru dapat mendekatkan kita kepada Kristus. Bila kita ikut serta dalam penderitaan Kristus, maka kita ikut serta pula dalam kemuliaan-Nya. Allah yang membangkitkan Kristus, akan membangkitkan kita juga.
Dalam Injil, Yesus berbicara tentang zina, penyesatan, dan perceraian. Semuanya ini berasal dari hati yang birahi dan sesat. Karena itu, pentinglah menilai hati sebab hati akar segala kejahatan. Bila hati kita baik maka perbuatan kita juga baik. Iktikad yang baik pasti memberikan nilai positif bagi hidup kita. Di era digital ini, sangat baiklah kita merawat hati dan menjaga mata untuk tidak melihat atau memposting hal-hal yang tidak baik di media cetak dan elektronik.

Ya Tuhan Yesus, tolonglah aku memiliki hati yang bersih agar hidupku menjadi warta gembira bagi orang lain. Amin.


SABTU


Sabtu, 17 Juni 2017
PEKAN BIASA X (H)
St. Gregorius Barbarigo
Bacaan I            : 2Kor 5: 14 – 21
Mazmur            : 103: 1 – 2. 3 – 4. 8 – 9. 11 – 12; R: 6a
Bacaan Injil       : Mat 5: 33 – 37  

Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata: “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar, janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.”

Renungan
Tuhan itu pengasih dan penyayang. Dia baik dan tidak mengingat-ingat kesalahan kita. Dia tidak pernah menyimpan dosa dan kesalahan kita dan tidak menghukum kita setimpal kesalahan kita. Sesudah dosa kita diampuni, kita menjadi ciptaan baru, menjadi manusia baru. Kita hidup dalam kasih-Nya. Inilah keyakinan Paulus dan itu pula yang diwartakannya.
Paulus menjadi pelayan perdamaian, rasul yang mewartakan kebaikan Tuhan. Dia mewartakan kebaikan Tuhan karena dia sendiri sudah mengalaminya. Mengalami kasih Kristus berarti hidup secara baru: tidak ada sumpah palsu. Banyak orang kini bersumpah, tapi tidak melakukan apa yang dikatakan dalam sumpah itu. Betapa banyak pejabat yang dihukum karena melanggar sumpahnya. Tidak ada gunanya bagi kita bersumpah demi Tuhan jika kita tidak melaksanakannya. Yesus menuntut kita berkata jujur: Katakanlah “ya” atau “tidak”, selebihnya berasal dari si jahat.
Seorang penulis Romawi, Ulpianus, berkata “honeste vivere” – hiduplah dengan jujur. Hidup yang jujur ini berkaitan erat dengan hidup yang baik (bene vivere) dan hidup yang bahagia (beate vivere). Semoga kita dapat hidup jujur mulai dari hal-hal kecil dan dari dalam keluarga kita sendiri.

Ya Tuhan, semoga aku hidup jujur dan tidak bersumpah palsu. Semoga aku tidak lupa akan kebaikan-Mu dan memuji-Mu setiap saat. Amin.


MINGGU


Minggu, 18 Juni 2017
HARI RAYA tubuh & darah kristus (m)
St. Leontinus; St. Hipatius dan St. Teodulus
Bacaan I            : Ul 8: 2 – 3. 14b – 16a
Mazmur            : 147: 12 – 13. 14 – 15. 19 – 20; R: 12a
Bacaan II           : 1Kor 10: 16 – 17    
Bacaan Injil       : Yoh 6: 51 – 58

Setelah Yesus disalibkan, pada malam pertama sesudah hari Sabat, berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu, datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersuka cita ketika mereka melihat Tuhan. Maka, kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Renungan
Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Pada malam perjamuan terakhir, Yesus bersabda: “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu… Inilah Darah-Ku yang ditumpahkan bagimu… Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku.” Pada hari itu, Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi. Sejak saat itu, setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita mengenangkan Kristus yang memberikan hidup-Nya bagi kita. Kristuslah Roti Hidup. Hosti dan anggur yang kita sambut bukan lagi roti dan anggur biasa, tetapi sungguh-sungguh telah diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, sebagaimana terbukti dalam mukjizat Ekaristi di Lanciano, Italia, dan di beberapa tempat di dunia (lihat buku Mukjizat Ekaristi, penerbit OBOR, 2012).
Tubuh Kristus itu satu. Bila kita menyambut Tubuh Kristus yang satu maka kita walaupun banyak, tetap merupakan satu tubuh. Dengan demikian, dalam Komuni, kita tidak hanya bersatu dengan Kristus, tetapi juga dengan sesame. Komuni menampakkan secara nyata kesatuan kita dengan Kristus dan kesatuan kita satu sama lain. Aspek kesatuan kita dengan sesame ini sering tidak kita sadari dan tidak kita pentingkan dalam Misa. Padahal aspek ini penting juga. Kita harus menjadi sumber persatuan dan bukan sumber perpecahan. Bila di akhir Misa, imam berkata: “Marilah pergi, kita diutus”, itu berarti kita siap diutus untuk hidup seperti Kristus, mempersatukan dan menyelamatkan dunia.

Ya Tuhan Yesus, semoga dengan menghormati misteri kudus Tubuh dan Darah-Mu, aku dapat menikmati buah penebusan-Mu dan siap diutus menjadi pemersatu di mana pun aku berada. Amin.