Bacaan Injil

Selasa, 15 Mei 2012
Pekan PASKAH VI (P)

St. Maria Dominika Mazzarello, Prw.; St. Isidor (us);
St. Pakomius; Sta. Dymphna; Sta. Bertha dan St. Rupertus

Bacaan I: Kis. 16:22–34
Mazmur : 138:1–2a.2bc–3.7c–8; R: 7c
Bacaan Injil : Yoh. 16:5–11



”Seperti Bapa telah mengasihi Aku, de­mi­kianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jika­lau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”


Renungan
Kisah Para Rasul menceritakan tentang proses pemilihan Matias sebagai Rasul sepeninggalan Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus. Meskipun pemilihan itu tampak amat sederhana, yaitu hanya dengan membuang undi, namun dalam doa yang mendahului pengundian itu mereka yakin penuh akan campur tangan Tuhan sendiri dalam memilih rasul-Nya.

Tugas seorang rasul tidak lain daripada melanjutkan karya keselamatan Yesus Kristus melalui kesaksiannya akan Sabda, Karya dan Kebangkitan Yesus Kristus. Tugas ini tampaknya ringan, namun penuh tantangan dan pengorbanan salib sebab tidak semua orang dengan mudah menerima kesaksian bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat. Tantangan itu bahkan akan terjadi hingga akhir zaman.

Iman, cinta dan persahabatan dengan Yesus Kristus mengikat seorang rasul untuk menjalankan tugasnya sampai akhir. Ia tak pernah takut terhadap apa pun yang terjadi karena percaya Yesus tak akan pernah meninggalkannya. Komitmen seperti ini telah menjadi kekuatan dan harapan baginya untuk bersaksi ke mana pun diutus. Cinta kasih Kristus mengobarkan semangatnya. Walau sebagai manusia lemah seorang rasul juga sadar ia tidak memiliki apa-apa untuk menjalankan tugas ini, namun ia percaya bawa Tuhan yang memilih, Tuhan akan memperlengkapi dia dengan segala daya dan kuasa dari surga. Tuhan turut bekerja dan menyertai dia selamanya, seperti janji Yesus sendiri: “Apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”

Doa:
Ya Tuhan, seperti para Rasul-Mu, semoga aku pun sanggup memberi diri dengan sepenuh hati dalam melanjutkan karya-Mu yang suci. Amin.




Rabu, 16 Mei 2012
Pekan PASKAH VI (P)
St. Ubaldus; St. Yohanes Nepomuk; St. Simon Stock; St. Andreas Bobola; Sta Gemma Galgani
Bacaan I : Kis. 17:15.22–18:1
Mazmur : 148:1–2.11–12ab.12c–14a.14bcd
Bacaan Injil : Yoh. 16:12–15



”Masih banyak hal yang harus Ku­katakan kepadamu, tetapi seka­rang kamu belum dapat me­nang­gungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku.”


Renungan
Paulus, sejak pertobatannya, dengan setia dan berani mewartakan kabar gembira tentang Yesus Kristus. Sejak awal perutusannya ia mengkhususkan diri menginjili bangsa-bangsa asing. Di hadapan Areopagus di Athena tanpa gentar dan takut ia memberi kesaksian mengenai karya Allah sebagai Pencipta dan juga tentang kebangkitan Yesus Kristus. Meskipun ia ditolak di sana, namun beberapa orang mulai percaya dan bergabung dengan dia.
Karya pewartaan Injil ataupun karya-karya baik lainnya tidak pernah berjalan tanpa hambatan. Tetapi yang pasti di balik hambatan itu selalu ada rahmat Allah yang tersembunyi dan yang terus menerus bekerja menghantar orang kepada keselamatan. Rahmat Allah tak pernah tinggal diam untuk membangun Kerajaan Allah di tengah dunia ini, karena Roh Kudus selalu menyertai orang-orang yang bekerja untuk Tuhan.
Yesus sendiri telah menyatakan pekerjaan Roh Kudus kepada para murid-Nya, yaitu akan memimpin mereka kepada seluruh kebenaran, memberitakan hal-hal yang akan datang, dan memuliakan Allah. Melalui pekerjaan Roh Kudus ini Yesus Kristus tetap menyertai para murid-Nya, agar mereka sanggup memperbaiki hidup manusia dari kesalahan kepada kebenaran, membangun harapan untuk masa depan dan juga sanggup memuliakan Allah dalam hidup setiap hari.
Ada banyak peristiwa dalam dunia ini yang membuat umat manusia sering merasa seperti tertimpa beban berat, namun bila Roh Kudus selalu diandalkan, Roh itu akan memimpin umat-Nya kepada kebenaran, memberi harapan akan masa datang, dan berkobar hatinya untuk selalu memuliakan nama Tuhan.

Doa
Ya Tuhan, syukur atas Roh Kebenaran, yang Engkau curahkan atas diriku. Ajarilah aku untuk selalu mengandalkan Dia dalam karyaku setiap hari. Amin.





Kamis, 17 Mei 2012
HARI RAYA KENAIKAN TUHAN (P)
St. Paskalis Baylon
Bacaan I : Kis. 1:1–11
Mazmur : 47:2–3.6–7.8–9; R: 6
Bacaan II : Ef. 4:1–13 atau Ef. 1:17–23
Bacaan Injil : Mrk. 16:15–20



Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Pergi­lah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil ke­pada segala makhluk. Siapa yang per­caya dan dibaptis akan diselamatkan, teta­pi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.


Renungan
Orang bilang: ”Setiap perpisahan yang tidak disertai dengan pesan-pesan penting, perpisahan itu menjadi amat menyakitkan, tetapi setiap perpisahan yang disertai dengan pesan-pesan, meskipun tidak penting, perpisahan itu menjadi kenangan yang tak terlupakan.”
Pesan Yesus dalam perpisahan dengan para murid sebelum kenaikan-Nya ke surga seperti yang ditulis Kisah Para Rasul dan Injil Markus hari ini, semuanya termasuk pesan-pesan penting. Momen perpisahan dengan Yesus ini bukan lagi merupakan peristiwa yang menyakitkan, tetapi menjadi kenangan indah yang tak terlupakan, karena Dia pergi untuk datang kembali pada akhir zaman dan akan senantiasa menyertai kita dengan janji pertolongan Roh Kudus. Selain pesan-Nya yang berbentuk Sabda atau ucapan dari mulut Yesus seperti tertulis dalam Injil, peristiwa kenaikan-Nya ke Surga juga memuat pesan yang luar biasa bahwa setelah hidup manusia berakhir di dunia ini, akan ada tempat kediaman baru yang mulia dan abadi di Surga. Surga benar-benar nyata! Kita menyaksikan hari ini Yesus naik ke Surga dengan tubuh yang dimuliakan. Ia sungguh Allah yang ajaib dan perkasa, penguasa alam semesta, yang hidup dan bertakhta dalam kemuliaan-Nya dari tempat yang tinggi. Berbahagialah kita yang percaya kepada-Nya.
Jika kita percaya akan pesan-pesan penting ini, dan mau menerima janji-janji-Nya dalam hidup ini, Allah akan bekerja dan menyertai kita dengan berbagai mukjizat-Nya yang biasa maupun luar biasa.

Doa
Ya Tuhan, syukur atas kenaikan-Mu ke Surga, bantulah aku untuk menghayati dan mengharapkan terwujudnya pesan-pesan-Mu dalam hidupku. Amin.





Jumat, 18 Mei 2012
Pekan PASKAH VI (P); Novena Pentakosta 1
B. Willem Toulouse; St. Yohanes I, Paus; St. Venantius; St. Feliks dr Cantalice;
Bacaan I : Kis. 18:9–18
Mazmur : 47:2–3.4–5.6–7; R: 8a
Bacaan Injil : Yoh. 16:20–23a



”Aku berkata kepadamu: Sesung­guh­nya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan ber­gembira; kamu akan berdukacita, teta­pi dukacitamu akan berubah menjadi suka­­cita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia mela­hir­kan anaknya, ia tidak ingat lagi akan pende­ritaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu. Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku.”


Renungan
Pak Boni tinggal di sebuah wilayah yang cukup fanatik. Sebagai minoritas dalam wilayah tersebut keluarga mereka selalu hidup dalam ketakutan karena terkadang ada saja orang-orang yang memusuhi mereka tanpa alasan. Rumahnya sering dilempari batu dan juga diancam untuk dibakar. Suatu saat ia mengikuti sebuah retret bagi awam yang diadakan oleh parokinya. Setelah retret itu imannya diteguhkan, ia mengajak keluarganya untuk tekun dalam doa dan mengikuti Ekaristi harian. Setiap hari mereka berdoa, mensyukuri semua keadaan itu dan memohon pengampunan bagi orang-orang yang memusuhi mereka. Selain itu, mereka tetap bersikap ramah dan bergaul dengan tanpa takut-takut. Sikap dan doa keluarga ini membuat orang-orang itu menjadi baik dan tidak mengganggu lagi.
Paulus dalam pewartaannya di Korintus mengalami ancaman dari mereka yang memusuhinya. Suatu saat hatinya diteguhkan pesan Tuhan melalui suatu penglihatan: ”Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.” (Kis. 18:9-10). Oleh pesan ini Paulus tetap tinggal di situ dan mewartakan sabda Tuhan tanpa takut.
Sebelum kenaikan-Nya ke Surga Yesus sudah mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa mereka akan mengalami banyak penderitaan karena nama-Nya. Namun, mereka tak perlu khawatir sebab semua itu akan dirasakan seperti seorang ibu yang sakit bersalin, — sakit itu akan dirasakan sebagai sukacita bila anaknya sudah lahir. Itu berarti, pewartaan yang melahirkan anak-anak Tuhan, meskipun berat, penuh tantangan dan derita, akan terasa sebagai sukacita bila hasil pewartaan itu menambah jumlah orang yang diselamatkan dan menjadi pengikut-pengikut Yesus Kristus. Orang-orang yang menghayati firman ini tentu akan merasa bersukacita ke mana saja mereka diutus untuk mewartakan sabda Tuhan.
Jangan takut untuk mewartakan sabda Tuhan di manapun kita berada, sebab Tuhan selalu menyertai kita yang percaya dengan kuasa-Nya yang teguh.

Doa
Ya Tuhan, ajarilah aku untuk setia kepada-Mu dalam suka-duka menghayati firman-Mu dalam hidupku. Amin.




Sabtu, 19 Mei 2012
Pekan PASKAH VI (P); Novena Pentakosta 2
St. Petrus Selestinus, Paus; St. Dunstan; St. Krispinus dr Viterbo; B. Clemens dr Osimo dan Agustinus Tarano
Bacaan I : Kis. 18:23–28
Mazmur : 47:2–3.8–9.10; R: 8a
Bacaan Injil : Yoh. 16:23b–28



”Aku berkata kepadamu: Sesungguh­nya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. Semuanya ini Kukatakan kepadamu de­ngan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu.Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”


Renungan
Dalam Gereja kita dikenal dua macam doa, yakni doa vokal dan doa hening. Doa vokal adalah doa dengan membaca dari buku-buku atau doa yang didaraskan dengan suara yang jelas. Doa hening adalah doa yang didaraskan dalam batin. Doa hening, doa batin, ini biasanya singkat, terdiri dari satu kalimat pendek bahkan cuma satu dua kata. Salah satu doa hening yang amat populer dewasa ini adalah doa nama, yang biasa disebut: doa nama Yesus atau doa Yesus. Menurut kesaksian, banyak orang yang sering melakukan doa hening, doa nama Yesus, memiliki buah-buah istimewa dalam hidupnya.
”Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu” (Yoh. 16:23b-24). Doa hening dengan menyebut nama Yesus, sesungguhnya termasuk dalam salah satu bentuk meminta kepada Bapa dalam nama Yesus. Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat. Yesus bertindak sebagai pengantara kita dalam doa-doa kepada Allah Bapa. Bila kita berdoa hanya dengan menyebut nama-Nya saja, di dalamnya sudah tercakup tindakan-Nya untuk menjadi pengantara bagi intensi-intensi yang kita sebutkan sebelum mulai berdoa. Nama Yesus adalah nama yang menyelamatkan. Yesus, Mesias, adalah Sang Juru Selamat.
Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat inti pewartaan para Rasul dalam Gereja Perdana. Semua orang yang percaya kepada-Nya dan dibaptis akan diselamatkan. Bila kita menerima Yesus dan berdoa dalam nama-Nya, kita akan memperoleh rahmat yang lebih besar dari sekadar keselamatan umum, yaitu mengalami kasih dan sukacita yang penuh, hubungan yang mesra dengan Tuhan, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Doa
Ya Tuhan, tambahkanlah imanku agar aku selamat dan memiliki sukacita yang penuh dalam nama-Mu. Amin.




Minggu, 20 Mei 2012
Pekan PASKAH VII (P); Novena Pentakosta 3
Hari Komunikasi Sedunia
St. Eugenius dr Mazenod; St. Ivo; St. Bernardinus dr Siena
Bacaan I : Kis. 1:15–17.20a.20c–26
Mazmur : 103:1–2.11–12.19–20ab; R: 19a
Bacaan II : 1Yoh. 4:11–16

”Ya Bapa yang kudus, peliharalah me­reka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan ke­pa­da-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan ke­pada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci me­re­ka, karena mereka bukan dari dunia, sama se­perti Aku bukan dari dunia. Aku tidak me­minta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari du­nia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”


Renungan
Setiap kali kita merayakan Hari Komunikasi Sedunia, Pimpinan Gereja Sejagat selalu mengajak kita untuk memanfaatkan media komunikasi semaksimal mungkin untuk bersaksi tentang Tuhan dan firman kebenaran-Nya. Lewat media-media komunikasi ini kita diminta untuk menjalin persahabatan, persaudaraan, kasih dan damai guna membangun dunia menjadi tempat yang mencintai persaudaraan, kasih, dan kerja sama.
Doa Yesus kepada Bapa di Surga dalam Injil hari ini, tidak lain daripada bentuk kerinduan-Nya yang besar agar semua pengikut-Nya hidup dalam persatuan yang utuh satu sama lain, sebagaimana Dia dengan Bapa satu adanya. Hanya dalam semangat persatuan, segala bentuk kehidupan bersama, mulai dari hidup rumah tangga sampai dengan hidup berbangsa dan bernegara, dapat dibangun menjadi tempat yang nyaman dan sejahtera bagi semua.
Pesan Hari Komunikasi Sedunia bagi kita saat ini: Hendaklah kita ”tiada henti mewartakan kasih dan damai Tuhan”, yang telah menyelamatkan kita secara lahir dan batin! Kasih dan damai menjadi alat komunikasi di antara kita. Kasih dan damai yang sama menjadi bahasa media komunikasi kita. Seperti ada tertulis dalam Injil Yohanes: ”Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi” (1Yoh. 4:11), karena untuk itulah kita dipanggil dan diutus ke tengah dunia ini.


Doa
Ya Tuhan, berilah aku kebijaksanaan dan ketekunan untuk membangun persatuan dan peliharalah aku dalam damai-Mu yang sejati. Amin.




Senin, 21 Mei 2012
Pekan PASKAH VII (P) ; Novena Pentakosta 4
St. Eugenius de Mazenod, Usk.; St. Godrikus; St. Herman Yoseph; St. Kristoforus dr Magallanes Jara
Bacaan I : Kis. 19:1–8
Mazmur : 68:2–3.4–5ac.6–7ab; R: 33a
Bacaan Injil : Yoh. 16:29–33



Kata murid-murid-Nya: ”Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Seka­rang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.” Jawab Yesus kepada mereka: ”Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”


Renungan
Dalam banyak peristiwa, tatkala kita mengalami benturan-benturan persoalan, yang tak terselesaikan dalam hidup ini, kita merasa putus asa dan berkata: ”Di manakah Tuhan? Mengapa Dia meninggalkan aku?” Atau ”Tuhan tidak adil, mengapa aku harus terus menderita?” Bahkan ada yang sampai murtad, menolak Tuhan.
Menjadi murid Yesus bukan berarti kita bebas dari segala bentuk masalah dan penderitaan. Kita semua tidak pernah luput dari persoalan dan akibatnya. Yesus, pada saat-saat akhir, mengingatkan para murid-Nya dengan berkata: ”Dalam dunia kamu menderita penganiayaan” (Yoh. 16:33a). Perkataan ini sungguh benar, karena dalam kenyataannya kita dianiaya, bukan saja oleh sesama manusia, tetapi juga oleh berbagai persoalan lain yang menimpa dunia ini, yaitu: kelaparan, kemiskinan, bencana, ketidakadilan, dst.
Semua orang tak mungkin bisa terhindar dari keadaan seperti itu. Para Rasul, murid-murid lain, orang-orang kudus, pengikut-pengikut Yesus sepanjang sejarah, semuanya mengalami hal yang sama. Tetapi, banyak orang bertahan dalam situasi itu karena percaya akan Yesus dan janji-Nya: ”... kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33b). Kuasa Roh Kudus menyertai, menguatkan, menyembuhkan, dan menghibur mereka semua sehingga mereka teguh berdiri dalam iman kepada Tuhan.
Marilah pada hari-hari menjelang Pentakosta ini, kita sama-sama berdoa kepada Allah Roh Kudus agar kita diberi iman penuh pengharapan untuk percaya bahwa Yesus telah mengalahkan dunia ini dan akan selalu mendampingi kita dengan kuasa Roh-Nya.

Doa
Utuslah Roh Kudus-Mu, ya Tuhan, dan bantulah aku agar senantiasa tinggal pada-Mu dan selalu percaya pada janji-Mu. Amin.




Selasa, 22 Mei 2012
Pekan PASKAH VII (P); Novena Pentakosta 5
Sta. Rita dr Cascia; Sta. Rosa (na); Sta. Renate; St. Yohanes Baptista Makado; St. Yoakima de Vedruna
Bacaan I : Kis. 20:17–27
Mazmur : 68:10–11.20–21; R: 33a
Bacaan Injil : Yoh. 17:1–11a



Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia me­nengadah ke langit dan berkata: ”Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada se­mua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu.”


Renungan
Umumnya kita senang kalau ada orang yang mendoakan kita, karena dengan itu kita tahu bahwa mereka mencintai, mendukung, menolong, memberi perhatiannya kepada kita. Kita juga percaya bahwa doa mendatangkan banyak berkat dalam hidup harian manusia. Kita lebih senang lagi jika yang mendoakan kita adalah mereka yang diurapi secara khusus untuk tugas pelayanan itu, misalnya: Paus, Uskup, para imam.
Yesus amat sayang kepada para murid-Nya, sebab mereka telah hidup bersama-Nya, berjalan dari desa ke desa dan dari kota ke kota; mereka telah melihat semua pekerjaan-Nya, mendengarkan khotbah-khotbah-Nya. Murid-murid itu telah menjadi sahabat-sahabat setia-Nya, menjadi bagian dari diri dan karya-Nya, karena itu sebelum kepergian-Nya kepada Bapa, Yesus mendoakan mereka secara khusus. Yesus meminta perlindungan, berkat, kekuatan, dan berbagai rahmat yang mereka perlukan dalam melanjutkan pekerjaan-Nya.
Dalam dunia ini, kita semua tak luput dari berbagai cobaan dan derita yang menimpa. Tanpa bantuan Allah tak mungkin kita bisa bertahan. Hidup kita amat rapuh. Kita membutuhkan doa satu sama lain. Jika kita memiliki semangat saling mendoakan maka betapa bahagianya kita. Doa untuk sesama, baik dalam keluarga, kelompok, maupun dalam Ekaristi adalah wujud kasih yang amat berharga. Mari kita saling mendoakan!

Doa
Ya Allah, berilah aku semangat untuk saling mendoakan sebagaimana Yesus telah mendoakan para murid-Nya. Amin.




Rabu, 23 Mei 2012
Pekan PASKAH VII (P); Novena Pentakosta 6
St. Desiderius; St. Yohanes Baptista Di Rossi; Sta. Yohana Antide Thouret; Sta. Eufrosina
Bacaan I : Kis. 20:28–38
Mazmur : 68:29–30.33–35a.35b–36c; R: 33a
Bacaan Injil : Yoh. 17:11b–19



”Ya Bapa yang kudus, peliharalah me­reka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan ke­pa­da-Ku, supaya mereka menjadi satu sama se­per­ti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu ke­pada mereka dan dunia membenci me­re­ka, karena mereka bukan dari dunia, sama se­perti Aku bukan dari dunia. Aku tidak me­minta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi me­reka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenar­an; firman-Mu adalah kebenaran. Sama se­perti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”


Renungan
Kalau anak-anak hendak bepergian atau ditinggalkan di rumah, pada umumnya orang tua menasihati mereka agar berwaspada dan menjaga diri dalam doa dan menaati perintah Allah, supaya mereka tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang merusak jiwa raga. Setiap orang tua yang mencintai anak-anaknya pasti tahu bahwa bersikap waspada dan menjaga diri melalui dua kebajikan itu adalah benteng kehidupan yang perlu bertumbuh dan berkembang dalam diri mereka.
Rasul Paulus tahu apa yang akan dihadapi jemaat di Efesus jika dia berangkat merasul ke wilayah lain. Ketika hendak meninggalkan Efesus, dia menasihati jemaat baru itu agar bersikap waspada. Berwaspada dalam doa dan taat pada sabda Allah adalah benteng yang kokoh melawan godaan.
Yesus dalam Injil hari ini memohon kepada Bapa-Nya agar Bapa memelihara semua pengikut-Nya supaya bebas dari segala kejahatan. Yesus berdoa: ”Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat” (Yoh. 17:15b). Yesus amat mencintai para murid-Nya sebab mereka telah menjadi sahabat karib-Nya. Kejahatan adalah racun kehidupan. Yesus rindu agar para murid ini dipelihara, dijaga dan dilindungi Bapa-Nya agar bebas dari segala racun kehidupan itu. Yesus juga rindu agar kelak mereka dapat bersatu kembali dalam kerajaan-Nya yang kekal.
Semoga setiap kita memiliki kesadaran untuk selalu bersikap waspada dan menjaga diri dalam doa dan ketaatan terhadap sabda Allah. Inilah perlengkapan senjata Allah yang terampuh untuk melawan semua godaan di dunia ini.

Doa
Ya Tuhan, lindungilah aku dari segala pencobaan dan bebaskan aku dari yang jahat. Amin.